Wilayah Tempat Kami Membangun: Kolam Alami di Seluruh Bali

Secara geologi, Bali bukan satu tempat. Apa yang ada di bawah lahan Anda — tuf vulkanik, endapan aluvial pesisir, atau batu gamping terangkat — menentukan biaya sebuah kolam alami, cara membangunnya, dan apakah ia bisa mengembalikan air.

Tiga lahan, tiga persoalan yang sama sekali berbeda.

Sebidang tanah di Canggu berdiri di atas tanah vulkanik muda dengan muka air tanah lima sampai dua puluh meter di bawah permukaan, dan air laut merangsek masuk lewat akuifernya. Sebidang tanah di Ubud berdiri di atas lembaran ignimbrit berusia 29.000 tahun, kadang setebal seratus meter, yang terpotong ngarai-ngarai yang menguras seluruh lanskapnya. Sebidang tanah di Uluwatu berdiri di atas terumbu karang yang terangkat — batu gamping yang begitu keras sampai ekskavator menyerah, dan begitu berpori sampai apa pun yang Anda masukkan ke dalamnya mencapai air tanah dalam hitungan jam.

Perbedaan itu bukan soal teori. Perbedaan itu menentukan cara menggali, cara melapisi, apakah sumur resapan akuifer menjadi hadiah bagi pulau ini atau justru beban, dan desain mana yang benar-benar akan terlihat menyatu di tempatnya.

Halaman-halaman ini memaparkan apa yang kami ketahui tentang tiap wilayah, di mana buktinya kuat, dan di mana — sejujurnya — buktinya tidak ada.

Dua halaman lagi, ditulis untuk yang sudah berada di tengah proyek alih-alih memulai dari nol: merenovasi vila di Canggu dan merenovasi vila di Seminyak — yang kedua sebagian besar membahas banjir dan aturan baru soal retensi air di lahan sendiri. Dan kalau Anda masih memilih akan membangun dengan siapa, ada cara memilih kontraktor kolam renang di Bali.